Dokter, Beritahu Ibu Tentang Metode “ABCDE” Pencegah Dermatitis Popok Pada Anak

Dokter, Beritahu Ibu Tentang Metode “ABCDE” Pencegah Dermatitis Popok Pada Anak

Penggunaan popok yang menjadi pilihan ibu masa kini, beresiko tinggi menyebabkan kulit bayi mengalami iritasi. Bagaimana kita sebagai dokter dalam memberikan penjelasan untuk ibu-ibu tentang pencegahan dan cara menghindarkan anaknya dari penyakit dermatitis popok, simak informasi berikut ini.

 

SEKILAS MENGENAI JARINGAN KULIT PADA BAYI

Kulit terdiri dari berbagai lapisan yaitu lapisan epidermis (lapisan luar), lapisan dermis (lapisan dalam), dan lapisan hipodermis (jaringan ikat dibawah kulit).

Lapisan epidermis sendiri masih terbagi dalam 5 lapisan yang berbeda pula yaitu; stratum korneum, stratum lucidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale.

Kulit akan mengalami perubahan selama periode post-natal, dari penelitian yang dilakukan pada bayi normal akan membutuhkan waktu 2-4 minggu setelah kelahiran untuk mencapai tahap kematangan barier yang sempurna, sedangkan pada bayi premature membutuhkwan waktu lebih lama yaitu lebih dari 8 minggu. Kelainan pada barier ini akan meningkatkan resiko infeksi dan resiko keracunan sistemik akibat mudahnya penyerapan substansi tertentu lewat kulit.

Lapisan dermis terletak dibawah lapisan epidermis tersusun dari jaringan ikat, folikular rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat, pembuluh darah dan pembuluh limpa. Pada bayi, ikatan antara epidermis-dermis lebih lemah dibandingkan pada orang dewasa, oleh karena lapisan dermis nya lebih tipis dan belum berkembang sepenuhnya.

Selain itu, pH pada kulit bayi sendiri ditemukan lebih basah/ alkalin dibandingkan pH pada kulit orang dewasa yang bersifat asam (pH=5,7), pH yang bersifat asam dibutuhkan sebagai pelindung dan berfungsi sebagai antimikroba alami.

 

DERMATITIS POPOK

Dermatitis popok adalah hasil dari iritasi berulang dengan overhidrasi ataupun maserasi dari lapisan stratum korneum epidermis, friksi/gesekan berulang kulit dan peningkatan pH kulit akibat dari kontak lama dengan urin ataupun feses. Umumnya dialami bayi hingga anak anak bahkan orang dewasa yang sering menggunakan popok.

Enzim protease dan lipase yang ditemukan pada feses merupakan iritan yang dipercaya dapat merusak barier pada kulit dan menyebabkan inflamasi. Inflamasi akan mendorong tubuh untuk melakukan reparasi jaringan yang kemudian memunculkan gejala dari dermatitis popok.

Kulit pada bayi premature lebih beresiko untuk terkena dermatitis popok dibandingkan kulit bayi normal, disebabkan gangguan barier yang terdapat pada lapisan stratum korneum epidermis dan juga struktur kulitnya yang lebih tipis dan rapuh.

 

GEJALA KLINIS

Terdapat 2 jenis dermatitis popok tersering yaitu dermatitis popok iritan dan dermatitis popok kandida.

Umumnya akan didapatkan lesi berupa kemerahan bersisik di area popok dengan papulovesikular atau bula, abrasi dan erosi. Ditemukan eritematosa atau pustule satelit di area perifer lesi bila terdapat infeksi oportunistik jamur Candida albicans.

 

PENANGANAN PERTAMA DAN KAPAN HARUS RUJUK

Penangan pertama dermatitis popok adalah dengan memberikan formulasi topikal, dengan mencampur bahan vehikulum dengan zat aktif. Formulasi topikal digunakan untuk mencegah dan meningkatkan perlindungan pada kulit, selain itu berperan untuk mempertahankan dan mengembalikan fungsi dari barier di stratum korneum epidermis. Formulasi topical juga membantu dalam proses regenerasi kulit dan dalam pencegahan komplikasi lanjutan.

Bahan vehikulum sebagai bahan inaktif dengan kandungan berbagai bahan aktif, berfungsi untuk proteksi lapisan kulit dan memiliki efek mengeringkan pada lesi vesikel ataupun lesi yang basah. Bahan vehikulum dapat berupa bedak, emulsi, fat excipient atau suspensi. Adapula bahan aktif yang terkandung di dalam vehikulum berupa zinc oxide, lanolin, petrolatum, dimethicone, kortikosteroid, anti-jamur dan antibiotic topical.

Lini pertama pilihan dari bahan aktif adalah krim zinc oxide ataupun produk yang memiliki kandungan zinc oxide didalamnya. Zinc oxide memiliki fungsi antiseptik , bersifat hipoalergik dan baik digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka.

Rujukan pada dokter spesialis, bila ditemukan kondisi berikut ini:

  • Dermatitis popok yang tidak tipikal
  • Pasien dengan immunocompromised
  • Pasien dengan faktor resiko ko-morbid

 

 

METODE “ABCDE” PENCEGAHAN DERMATITIS POPOK

A = “AIR”

Biarkan kulit yang lama tertutup dengan popok terpapar dengan udara bebas langsung.

B = “BARRIER”

Gunakan krim (zinc oxide atau petrolatum) yang dapat berfungsi sebagai barrier kulit.

C = “CLEANSING”

Bersihkan dengan lembut area popok dengan menggunakan air ataupun tissue basah, hindari gosokan yang terlalu keras.

D = “Diaper”

Gunakan popok yang tingkat penyerapannya tinggi kemudian gantilah popok 3 jam sekali pada waktu siang hari dan minimal sekali di waktu malam hari.

E = “Education”

Orang tua harus memahami tentang tingkat higienitas dalam penggunaan popok serta bagaimana halnya dalam merawat kulit sekitarnya.

 

 

Sumber:

  1. http://emedicine.medscape.com/article/911985-overview#a4
  2. Formulasi Topikal untuk Manajemen Dermatitis Popok pada Bayi; IAI
  3. Prevention, Treatment and Parent Education for Diaper Dermatitis; CNE

 

Informasi ini disediakan serta dirangkum oleh:

logo-medicall-partner

Redaksi Info Kesehatan MEDI-CALL

PT Medika Nusantara Gumilang

MEDI-CALL membuka pendaftaran untuk Dokter, Perawat, Bidan, Klinik, Apotek, dan Laboratorium, sebagai partner penyedia layanan on-demand/home visit dan homecare.

Untuk pendaftaran menjadi MEDI-CALL Partner silahkan mengunjungi website: http://partner.medi-call.id atau klik di sini

Free biaya pendaftaran, langsung Online!

Mari bergabung menjadi pahlawan kesehatan untuk Indonesia yang lebih sehat, dan tenaga medis sejahtera.

No Comments

Post A Comment